| Meredam Andropause Dini dengan Puasa
Andropause merupakan istilah bagi pria usia pertengahan dengan keluhan yang hampir mirip dengan menopause pada wanita. Hal ini terjadi secara alamiah karena proses penuaan (aging). Banyak factor yang dapat mempercepat terjadinya andropause (andropause dini) seperti gaya hidup yang tidak sehat ( makanan tidak sehat, kurangnya olahraga, obesitas), factor genetic, adanya penyakit kronis yang diderita, stres berlebihan dan berkepanjangan (kronis) serta beban kerja berlebih.
Secara kasat mata penanda andropause dapat dilihat dari kondisi fisik kaum maskulin yang melebihi dari umur semestinya sehingga tampak lebih tua. Kondisi ini akan lebih jelas lagi pada pria dengan obesitas yaitu fisiknya tampak 5 tahun lebih tua dari umur semestinya.
Beberapa keluhan andropause yang kebanyakan dialami golongan usia 50-60 tahun antara lain kurang tenaga (keletihan), daya tahan serta kekuatan fisik mulai menurun, kenikmatan hidup dirasakan menurun, emosi tidak terkendali dan sering cepat marah, menurunnya kemampuan dalam berolahraga serta prestasi kerja, daya ingat mulai menurun, gangguan pola tidur (sering mengantuk, sering menguap dan tertidur sesudah makan malam), serta gangguan pada fungsi seksualnya
Jika pria yang bersangkutan melakukan pemeriksaan hormonal, kemungkinan besar akan menunjukkan gangguan keseimbangan kadar hormon, terutama hormon kejantanan alias testoteron. Kaum Adam yang mengalami andropause, 80% keluhan yang paling dirasakan terutama pada gangguan fungsi seksualnya.
Stres
Stres karena pikiran tidak terlepas dari kehidupan, rutinitas pekerjaan maupun kondisi lingkungan pada manusia. Dengan adanya stres sudah tentu tubuh memerlukan energi untuk meresponnya dengan cara meningkatkan sistem metabolisme (pembakaran protein dan lemak tubuh). Dalam hal ini diperlukan peranan hormonal dalam tubuh.
Pada stres ringan , hormon testosteron, hormon kortisol maupun adrenalin dan hormon lainnya masih dalam batas seimbang. Sebaliknya, pada stres kronis yang berlebihan , kadar kortisol dan adrenalin akan meningkat yang dapat memicu peningkatan metabolisme . Peningkatan kedua sistem hormon tersebut yang berlebihan justru akan berdampak terhadap penurunan hormon testosteron secara progresif yang mengakibatkan kerusakan jaringan tubuh dan memudahkan terjadinya andropause dini. Rendahnya kadar hormon testosteron dan tingginya hormon kortisol, merupakan indikator seseorang mengalami stres berat.
Over training juga merupakan bentuk stres pada fisik. Hormon testosteron masih bisa meng-cover dalam tempo 45-60 menit untuk merespon dampak dari kondisi beban kerja yang berlebihan tersebut. Selanjutnya, akan terjadi penurunan testosteron yang bias berlangsung sampai 6 hari. Hal ini sebagai dampak dari peningkatan hormon kortisol.
Sebaiknya hindari melakukan over training yang melebihi 45-60 menit setiap satu kali latihan berat. Demikian juga kebiasaan tidur larut malam ataupun melakukan aktivitas kerja hingga tengah malam harus dihindari, karena nilai kadar testosteron dalam darah lebih rendah 30% pada malam hari disbanding pagi hari.
Jadi hormon kortisol berperan dalam sistem penyediaan energi akibat stres maupun over training, sedangkan hormon testosteron berperan dalam recovery.
Menurunnya Hormon Testoteron
Salah satu marker (petanda) dari andropause dini adalah rendahnya kadar testosteron tubuh yang dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah. Beberapa kondisi yang dapat menurunkan hormon testosteron diantaranya proses penuaan, obesitas, merokok, alkohol, narkoba, penyakit kronis (kencing manis, kolesterol tinggi, hipertensi, gagal ginjal) dan depresi.
Puasa
Testosteron mempunyai peranan penting yaitu memperbaiki sel organ tubuh dari kerusakan akibat stres kronis maupun over training.
Sebagian kaum maskulin masih dapat mempertahankan nilai kadar testosteronnya menjadi stabil mendekati batas normal samapai usia lanjut. Hal ini terutama karena mereka terbiasa dan disiplin dengan pola hidup sehat dimulai usia muda.
Penelitian menunjukkan, stres yang berlebihan dalam satu bulan (misalnya suasan ujian) dapat menurunkan fungsi hormon testosteron secara klinis sampai 20-30%.
Ibadah puasa yang dilaksanakan setahun sekali ditujukan untuk mengistirahatkan fisik dari segala permasalahan kegiatan rutinitas serta mendekatkan jiwa sang Khalik guna mendapatkan kesejukan jiwa. Jika kita bias menjalankan serta memaknainya, sudah tentu beragam manfaat akan dipetik.
Misalnya akan terjadi penurunan berat badan ( bagus bagi penderita obesitas), pola kerja yang berlebihan dapat dibatasi, porsi maupun pola makanan sehat dapat diatur, istirahat dan tidurpun lebih teratur. Selain itu, emosi dan ambisi serta stres lebih teredam, sehingga dipeoleh kenyamanan jiwa.
Walaupun dari data penelitian yang ada, terjadi penurunan kadar testosteron pada hari 10, 20 dan hari ke 28 bulan Ramadhan, penurunannya hanya berkisar 5-10% dan masih dalam level normal yang tidak mempunyai efek klinis.
Jika tidak ada pantangan, untuk menjaga stabilitas hormonal dalam tubuh disarankan melakukan diet rendah karbohidrat (nasi jangan terlalu banyak), tinggi protein ( kaldu daging, tahu, tempe) serta mengkonsumsi buah dan sayur.
|