Kemarin, Sekarang dan Hari Esok
Babak awal perjalanan RS. Santo Borromeus dimulai ketika enam biarawati dari Tarekat Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus—Suster Crispine, Judith, Gaudentia, Ludopha, Ambrosine dan Lioba—datang ke Bandung pada Juli dan Agustus 1921 untuk mengabdikan diri sebagai abdi kehidupan dibidang perawatan kesehatan.
Menempati sebuah klinik tua di Jalan Dago, RS Santo Borromeus mulai buka untuk umum pada 18 September 1921 dibawah yayasan yang diketuai oleh Dokter de Groot. Dalam waktu kurang dari empat tahun, bangsal Rumah Sakit tumbuh signifikan dari hanya 17 tempat tidur menjadi 90 tempat tidur. Setelah melalui masa-masa sulit selama Perang Dunia II, Perang Kemerdekaan dan kelahiran Republik kita tercinta, kami mampu melanjutkan perjuangan sendiri. Selama era 90-an, Gedung Maria dan Gedung Yosef dapat diselesaikan untuk mengakomodasi 370 pasien rawat inap dan berbagai fasilitas kesehatan baru.
Setelah Gedung Carolus dan parkir bawah tanah berlantai tiga selesai dibangun pada tahun 2005, berbagai teknologi medis diagnostik canggih pun akhirnya masuk, sehingga memberikan kesempatan bagi kami untuk menyediakan pelayanan yang lebih baik dan Profesional. Kini, rumah sakit mampu menampung 416 pasien rawat inap.Namun, RS Santo Borromeus bukanlah satusatunya fasilitas medis yang bernaung dibawah yayasan PPSB. Sejumlah fasilitas lain yang terkait dengan bidang kesehatan pun ikut bergabung.
Pada 1926, misalnya, cikal bakal fasilitas pendidikan keperawatan dimulai. Setelah mengalami banyak perubahan, fasilitas tersebut mulai mandiri sejak 1993 dengan nama Akademi Keperawatan Santo Borromeus yang kini sudah berkembang menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ( STIKes).
Sejumlah klinik di Titimplik, Balubur dan Cinta Asih dibuka pada 1963 sebagai pintu bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik.
Poliklinik Sekar Kamulyan dibangun di Cigugur, Kuningan pada 1965. Fasilitas ini ditingkatkan pada 1987 menjadi rumah sakit tipe D dengan kapasitas awal 50 tempat tidur.
RS Santo Yusup—didirikan pada 1937 oleh Yayasan Salib suci menyerahkan manajemennya kepada RS Santo Borromeus pada 1976. Setelah berdiri sendiri pada 1987, RS Santo Yusup masih bernaung di bawah PPSB.
Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (PJPK) dikembangkan pada 1994 sebagai respon terhadap tuntutan kesehatan yang semakin meningkat.
Program ini tumbuh menjadi lembaga terpisah pada 1999 dengan nama Badan Penyelenggara Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (Bapel JPKM) Surya Sumirat, diresmikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia pada Januari 2000.
Selain infrastruktur, pembangunan sumber daya manusia adalah kunci utama dari visi dan misi kami. Pendidikan formal tingkat lanjutan dan pelatihan di berbagai bidang keahlian pun diselenggarakan. Sebagai tanda pengakuan terhadap komitmen di bidang kesehatan, kami memperoleh Sertifikat Akreditasi Rumah Sakit dari Departemen Kesehatan.
Terus berimprovisasi untuk memperbaiki standar kualitas sehingga pada 2001, kami meraih sertifikasi ISO 9001:2000, yang kemudian menjadi ISO
9001:2008 pada 2010. Tanda pengabdian bukanlah di atas kertas atau
sertifikat. Tanpa kerja keras, semua doa dan sumber daya yang dimiliki hanya akan seperti api dihembus angin. Namun, kami menjamin semua itu barulah awal dari pengabdian.
Our first chapter began when six sisters from the Charity of St. Carolus Borromeus—Sister Crispine, Judith, Gaudentia, Ludopha, Ambrosine and Lioba—came to Bandung in July and August 1921 to devote themselves as servants of life in healthcare.
Occupying an old clinic in Jalan Dago, St. Borromeus Hospital began to open to the public on September 18, 1921 under a foundation chaired by Doctor de Groot. In less than four years, the hospital wards grew significantly from only 17 beds to 90 beds.
After going through hard times during the World War II, the War of Independence and the early establishment of our beloved Republic, we were able to pull ourselves together and continue our own struggle. During the 90s, the Maria Building and the Joseph Building were completed to further accommodate 370 inpatients and a variety of new health facilities.
With the establishment of the Carolus Building and a threelevel underground parking lot in 1994, more advanced medical diagnostic equipment finally made its way into our home, giving us an opportunity to provide even better and professional service.
Today, our hospital is able to accommodate 416 inpatients. However, St. Borromeus Hospital is not the only medical facility that shelters under PPSB. A number of other facilities associated with the health sector also joined.
In 1926, for instance, the embryo of a nursing educational facility was initiated. After experiencing many changes, the facility began to be independent since 1993 under the name of Saint Borromeus Academy of Nursing which has now evolved into the College of Health Sciences (STIKes). Several clinics in Titimplik, Balubur and Cinta Asih were opened in 1963 to provide the community with an
opportunity to get better healthcare.
Sekar Kamulyan Clinic was established at Cigugur, Kuningan
in 1965. The facility was upgraded in 1987 to a type-D hospital with an initial capacity of 50 beds.
Santo Yusup Hospital, founded in 1937 by Holy Cross Foundation, handed its management to St. Borromeus Hospital in 1976. After regaining its independence in 1987, Santo Yusup Hospital remains under PPSB.
Health Insurance Program (PJPK) was developed in 1994 as a response to the increasing health demands. This program grew into a separate institution in 1999 with the name of Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan Masyarakat (Bapel JPKM) Surya Sumirat, inaugurated by the Minister of Health of the Republic of Indonesia in January 2000.
In addition to infrastructure development, human resource development is the key of our vision and mission. Advanced level of formal education and training in various fields of expertise were held.
As a token of recognition for the commitment in the health sector, we obtained a Hospital Accreditation Certificate from the Ministry of Health. We continued to improvise to improve our quality standards; therefore, in 2001, we achieved an ISO 9001:2000 certification, which later became ISO 9001:2008 in 2010.
A sign of devotion is not on paper or certificates. Without hard work, all the prayers and resources would be just like fire in the wind.
However, we guarantee it was all just the beginning of the devotion.
| < Prev | Next > |
|---|
| Latest Articles | Most Read Articles | Random Articles |
By A Web Design






Copyright © 2012 Rumah Sakit Santo Borromeus. Jln. Ir. H. Juanda No. 100 Bandung 40132. All rights reserved
Tel. 022-2552000 Fax. 022-2504235, email: sekretariat@rsborromeus.com