image

Mengenal Overweight dan Obesitas: Penyebab, Dampak, Pencegahan, dan Pengaturan Pola Makan untuk Mencapai Berat Badan Ideal

Apa itu Overweight dan Obesitas

Overweight dan obesitas adalah kondisi ketika tubuh menyimpan lemak terlalu banyak hingga melebihi batas normal yang sehat.
Secara ilmiah, kedua kondisi ini diukur dengan Indeks Massa Tubuh (IMT), yaitu perbandingan antara berat badan (dalam kilogram) dan tinggi badan (dalam meter kuadrat).

 

Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah angka yang menunjukkan perbandingan antara berat badan dan tinggi badan, dihitung dengan rumus:

IMT digunakan untuk menilai apakah berat badan seseorang sudah sesuai dengan tinggi badannya.

Kriteria Asia Pasifik (WHO Expert Consultation, 2004 dan konsensus terbaru)

Karena risiko penyakit metabolik pada orang Asia muncul di IMT yang lebih rendah dibanding orang Eropa/Amerika, sehingga batasannya berbeda. Berikut Indikator Status Gizi Menggunakan IMT Sesuai Dengan Kriteria Asia Pasifik

Overweight dan obesitas  meningkatkan risiko penyakit kardiometabolik, beberapa kanker, gangguan tidur, dan penurunan kualitas hidup. Definisi standar memakai BMI/IMT (kg/m²) sesuai standar populasi Asia yaitu overweight ≥23; obesitas ≥25 dan Lingkar pinggang ≥90 cm pria dan ≥80 cm wanita.

 

Mengapa Batas IMT Asia Pasifik Lebih Rendah?

  1. Distribusi Lemak Berbeda
    Orang Asia cenderung memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggidibanding orang Eropa atau Amerika pada IMT yang sama, terutama di bagian perut (lemak visceral) yang lebih berisiko untuk diabetes dan penyakit jantung.
  2. Risiko Penyakit Muncul Lebih Dini
    Penelitian menunjukkan bahwa orang Asia sudah memiliki risiko tinggi terkena diabetes tipe 2dan hipertensi bahkan pada IMT sekitar 23–24, yang bagi populasi Barat masih dianggap normal.
  3. Faktor Genetik & Metabolisme
    Metabolisme lemak dan sensitivitas insulin berbeda antar ras. Orang Asia lebih rentan mengalami resistensi insulin pada tingkat lemak tubuh yang lebih rendah.
  4. Pertimbangan Kesehatan Masyarakat
    Dengan batas lebih rendah, skrining dan pencegahan dapat dilakukan lebih awal sebelum komplikasi muncul.

Mengapa Kelebihan Berat Badan Dapat Terjadi? (Faktor Penyebab)

  1. Ketidakseimbangan asupan gizi, dimana asupan kalori > pengeluaran kalori dalam jangka panjang.
  2. Pola makan: konsumsi tinggi minuman bergula/ultra-proses, rendah serat/protein.
  3. Aktivitas fisik rendah & sedenter: pedoman WHO menyarankan aktifitas fisik  150–300 menit/minggu aktivitas aerobik sedang atau 75–150 menit intensitas berat + latihan kekuatan ≥2 hari/minggu.
  4. Tidur & stres: durasi tidur pendek/berkualitas buruk berkorelasi dengan obesitas sentral dan sindrom metabolik.
  5. Faktor biologis: genetik, penggunaan obat tertentu, penuaan.

Dampak Kesehatan

Kelebihan berat badan akan berdampak pada peningkatan resiko penyakit metabolik seperti :

– Kardiovaskular & metabolik: hipertensi, dislipidemia, penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2.
– Kanker: kolorektal, payudara pascamenopause, endometrium, ginjal, dan lainnya.
– Hepatik & respirasi: penyakit hati berlemak metabolik, sleep apnea obstruktif.
– Beban populasi: tren kenaikan global dengan implikasi ekonomi dan kesehatan.

 

Prevention

  1. Pengaturan pola makan bergizi seimbang sesuai dengan kebutuhan pasien. Menghindari makanan tinggi gula, tinggi lemak.
  2. Aktivitas fisik rutin + olahraga.
  3. Tidur cukup & teratur.

 

Pengaturan Pola Makan untuk Turun & Pengendalian Berat Badan

Target energi: Defisit kalori 500–750 kkal/hari dari Total Kebutuhan Energi, setara dengan ±1.200–1.500 kkal/hari untuk sebagian besar wanita dan ±1.500–1.800 kkal/hari untuk sebagian besar pria.
Protein: 1,2–1,6 g/kgBB/hari.Pilih protein hewani rendah lemak seperti : putih telur, ayam tanpa kulit, ikan.
Serat : tingkatkan konsumsi sayur, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh.
Prinsip praktis : porsi setengah piring sayur, seperempat protein tanpa lemak, seperempat karbo kompleks.

 

Tips Penurunan Berat Badan

  1. Tetapkan target realistis: turun 5–10% berat badan dalam 3–6 bulan.
  2. Catat asupan makanan dan aktivitas fisik harian.
  3. Hindari minuman manis dan makanan ultra-proses.
  4. Konsumsi protein rendah lemak di setiap waktu makan untuk kenyang lebih lama.
  5. Gunakan piring lebih kecil untuk mengontrol porsi.
  6. Tidur cukup 7–9 jam per malam.
  7. Kelola stres.
  8. Lakukan olahraga rutin sesuai rekomendasi WHO :  aktifitas fisik  150–300 menit/minggu aktivitas aerobik sedang atau 75–150 menit intensitas berat + latihan kekuatan ≥2 hari/minggu.
  9. Dapatkan dukungan dari keluarga atau kelompok sebaya.

 

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. Obesity – Health Topics. Updated 2024.
  2. Yumuk A, et al. Obesity in South and Southeast Asia—A new consensus on care. Obesity Reviews. 2023.
  3. World Obesity Federation. World Obesity Atlas 2024.
  4. WHO. Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. 2020.
  5. USPSTF. Behavioral weight-loss interventions in adults with obesity. 2021.
  6. ADA Standards of Care 2025. Section 8: Obesity and Weight Management.
  7. VA/DoD Clinical Practice Guideline for the Management of Adult Overweight and Obesity. 2020.
  8. Hall KD, Guo J. Optimal Diet Strategies for Weight Loss and Maintenance. 2021.
  9. European Journal of Preventive Cardiology. Obesity & CVD. 2022.
  10. Studi hubungan durasi tidur dengan obesitas sentral/metabolik. 2024–2025.
  11. Kementerian Kesehatan RI. Ambang lingkar perut aman 90/80 cm. 2024.

Materi oleh : Instalasi Gizi RS Santo Borromeus